IKLAN POLITIK DAN POLITICAL PUBLIC RELATION

Posted: March 5, 2009 in PUBLIK RELATION
Tags: , , , ,

Semakin dekat hari pemungutan suara pada Pemilihan Umum (pemilu) legislatif 9 April 2009 nanti, semakin ramai para calon legislatif dan partai politik yang “memasarkan” dirinya. Maraknya iklan-iklan politik ini dapat dilihat dari intensitasnya pada media massa baik lokal maupun nasional.

Iklan politik ini dimaksudkan untuk mensosialisasikan calon legislatif dan partai politik tempat legislator bernaung. Essensi iklan politik adalah penyampaian pesan dengan memanfaatkan ruang komersil dimana penggunaannya seorang penyampai pesan harus membayar dengan sejumlah uang. Atau singkatnya Iklan politik adalah penyampaian pesan melalui media massa.

Pencitraan melalui media selalu dianggap efektif dalam membentuk citra, pasalnya, sebagian besar masyarakat di indonesia tidak memiliki akses kepada informasi, dalam hal ini mengecek hal-hal yang ditayangkan melalui media massa untuk mengetahui kebenarannya.

Iklan politik, seperti apapun kemasannya, hanyalah salah satu upaya memperkenalkan diri kepada publik. Kebanyakan Para calon Legislatif atau partai yang beriklan menganggap Iklan Politik sebagai ramuan Mujarab penjual obat, satu obat untuk banyak penyakit, seolah olah dengan beriklan segala penyakit yang berhubungan dengan citra dan popularitas akan terobati, sebenarnya hal yang mendasar dalam pencitraan politik bahwa pencitraan tidak hanya dapat dilakukan melalui Iklan, namun ada bentuk lain yakni political Public Relation.

Iklan politik tidak pernah mau melihat apakah auidence setuju atau tidak setuju dengan pesan yang disampaikan, bagi pemilih yang terrdidik mereka sadar bahwa pesan-pesan yang disampaikan adalah komunikasi lipstik atau komunikasi polesan. Dengan alasan tersebut, maka bisa dikatakan Iklan politik adalah bentuk komunikasi persuasi yang terbatas. Bahkan kadang Iklan tidak begitu diperhatikan karena sudah dianggap sebagai spam. Dan di sinilah keunggulan dari political public relation, selain free acsess media, pesan yang disampaikan lebih dapat dipercaya dan mendapat perhatian publik.

Hal ini ditegaskan Ardi kolah, “Iklan tidak membangun merek, publikasilah yang membangun merek, iklan hanya dapat mempertahankan merek yang telah diciptakan oleh publikasi. Yang benar adalah bahwa iklan tidak dapat membuat api. Iklan hanya dapat mengipasi api yang telah diciptakan. Untuk memulai dari nol, anda perlu keabsahan yang hanya dapat diberikan oleh pihak ketiga. Tahap pertama dari semua kampanye adalah Public Relation”. (Ardi kolah, PR dalam Praktek,2002).

Disinilah peran Public Relation dari Partai politik, jauh-jauh hari mereka telah membangun citra partainya dan menjalin hubungan dengan para audiens, dengan terjalinnya hubungan baik ini audiens tidak merasa “didekati” manakala suara mereka dibutuhkan.

Dari pengamatan penulis, bergeraknya “mesin” politik baik untuk partai politik maupun para calon legislatif mulai bekerja pada musim-musim menjelang pemilu, hal ini membuat masyarakat merasa kalau sudah ada maunya baru kita diperhatikan.

Ada baiknya Partai politik menyiapkan rencana kegiatan Public Relation (PR) guna mendukung pencitraan dimata masyarakat, strategi untuk kerja PR dapat diformulasikan setelah penetapan citra yang diinginkan sebagai target image, target image muncul dari keputusan-keputusan strategis mengenai tugas dan pilihan yang berkaitan dengan isu, gaya dan orang-orang yang menjadi target image.

Target image meletakkan dasar bagaimana pekerjaan PR dilakukan. Semua kegiatan PR ditujukan untuk menyebarluaskan target image dan menanamkannya dalam benak pihak-pihak yang menjadi sasaran.    terjalinnya kedekatan dengan audiens adalah kunci keberhasilan, hal ini hanya dapat dilakukan melalui peran PR, Keuntungan apa yang diperoleh masyarakat, bila kandidat menjadi legislator? Pertanyaan ini jelas menghendaki adanya kejelasan kelebihan sang kandidat atau partai politik yang menaunginya. PR-lah yang memperkenalkan sang kandidat melalui sosialisasi yang memfokuskan pada kepribadian yang akan membuatnya menjadi seterkenal mungkin.

Untuk mencapai popularitas diperlukan waktu yang lama yang tidak mungkin dicapai dalam tempo 6 minggu menjelang pemilu, berapa banyak warga yang datang ke acara sosialisasi dan berapa banyak warga yang berlangganan koran? Jawabannya SANGAT SEDIKIT.

Beberapa hal yang patut menjadi perhatian PR dalam mencapai target image yang dikehendaki yakni sosialisasikan program unggulan yang pro-rakyat, peka dengan permasalahan wilayah-daerah dan tonjolkan track record sang kandidat.

Comments are closed.